Langsung ke konten utama

Tak ada sekolah untuk menjadi orang tua

image create by endah with bing AI
 

Sekolah untuk menjadi orang tua memang tak ada,  kebanyakan orang tua learning by doing,  belajar sambil menjalani peran barunya setelah menikah. 

Sebagian ada pasangan juga yang berusaha untuk mempersiapkan diri secara mental, mengilmui diri dengan bacaan parenting, mengikuti seminar pranikah.  outcomenya memiliki kesadaran bahwa membina rumah tangga perlu pasangan hidup yang seirama meski berbeda, membangun komitmen bersama, di atas fondasi yang kokoh, yaitu keimanan. 

Namun jujurly, sebagian besar dari orang tua tidak punya persiapan yang cukup, sehingga tanpa disadari copy paste cara-cara lama yang orang tua mereka lakukan, tanpa disadari juga ini akan menjadi awal dari dosa warisan bagi si anak yang terlahir ke dunia suci, bersih layaknya kertas putih kosong. Orang tua meninggalkan rekam jejak perjalanannya ditulis dengan catatan-catatan yang penuh coretan, koreksi, ragam warna yang terkadang membingungkan si buah hati.

Seperti penuturan seorang teman saat aku bertanya mengapa kakak laki-lakinya belum juga menikah di usianya yang masuk setengah abad. "Masku punya prinsip, kalau belum mampu menjadi orang tua yang baik, setidaknya gak usah punya anak, kalau gak mampu jadi orang tua".   Mengapa ia demikian, ternyata secara empiris terbukti, di masa lalunya ia mengalami perlakuan yang keras dari orang tuanya, yang membentuknya untuk selalu mengakui salah meskipun tak melakukan kesalahan, terus menekan emosinya karena takut pada ayahnya. jiwanya tertekan. 

Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, tak bisa lagi ternyata jika hanya copy paste dari cara mendidik orang tua kita dulu, karena jaman bergerak dinamis, begitu juga perilaku manusianya. Namun agama Islam mengajarkan, ada akar peradaban yang selalu menancap kuat, yaitu akar keimanan. Selama orang tua mengajarkan fondasi keimanan yang kuat secara spritual dan intelektual, anak-anak kita akan terbimbing dalam menjalani kehidupan yang berubah begitu cepat. 

Mari kita skrining bagaimana pola pengasuhan pada buah hati, jangan-jangan kita malah berpindah peran jadi baby sitter, yang tandanya sebagai berikut :

1. mencoba menyelesaikan semua masalah anak-anak

2. terus menerus mengoreksi anak

3. fokus menemukan kesalahan atau perilaku negatif anak

4. menasehati saja dan tidak mendengar

5. bertindak atas kepentingan anak karena merasa lebih mengerti kemauan anak

6. memilihkan teman dan aktivitas bagi anak

7. lebih fokus mengendalikan daripada memberi teladan

8. menerapkan tekanan akademis saja

Lalu adakah pilihan gaya pengasuhan lain atar tidak melahirkan luka batin pada anak yang berakibat kontraproduktif bagi perkembangan jiwanya? 

Berikut indikator gaya pengasuhan tanpa trauma sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Dono, praktisi mental health

- membolehkan anak untuk gagal

- lebih banyak mendengarkan dari pada menasehati

- sama-sama memakai komunikasi asertif

- berusaha saling memahami dan membantu memenuhi kebutuhan psikologisnya

- menetapkan harapan-harapan  yang realistis sesuai tahap perkembangan anak dan juga orang tua

- menciptakan lingkungan yang aman tanpa merebut fitrah anak atas  dirinya sendiri. 

Menjadi orang tua adalah pilihan yang tidak mudah, namun percayalah tanggung jawab ini  membuat orang tua terus belajar menjadi seorang yang senantiasa memperbaiki diri. Karena dengan contoh, mendidik anak menjadi paripurna. 

-JEF-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monetisasi (monetization) it's all we want

Monetisasi Blog Monetisasi adalah mengubah atau mengelola blog yang semula hanya sebagai ajang menulis dan berekspresi menjadi media untuk mencari uang intinya kata monetisasi dipakai untuk menyatakan bahwa blog milik kita digunakan untuk mencari uang atau lebih tepatnya mendapatkan pendapatan dari blog atau bisa juga sebagai sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan ataupun justru sebagai penghasilan utama dengan jalan menjadikan pasif income pada sebuah broker atau dengan memasang iklan untuk mencari uang lewat internet. Monetisasi aktivitas di rumah Throw back moment saat mahasiswa, nongkrong bareng di restoran cepat saji di BIP Bandung, dikenalkan dengan seorang unordinary woman yang hidupnya terlalu berfoya-foya, temenku bilang dia jago jual beli saham. Penghasilannya unbelievable- secara bagi aku yang masih kuliah akuntansi tingkat tiga bikin baper. Dia bilang cari uang itu gampang, bisa sambil leyeh-leyeh di tempat tidur, teknologi memudahkan dir...

Kiat sukses menghapal Qur'an dan Kuliah

Kuliah atau fokus menghapal Qur'an ? - bukan suatu yang mustahil diwujudkan, beberapa santri tahfidz di pesantren saat ini banyak yang menempuh keduanya. Begitupun sebaliknya, siswa sekolah formal umum, mulai menghapal Al Qur'an beriringan dengan waktu belajarnya.  Keceriaan santri Pondok Pesantren Islahul Ummah Cianjur saat wisuda  Ini membuatku terharu, ucapan Fawwaz, siswa kelas akselerasi SMUN 3 Bandung, yang juga hafidz Al Qur’an 30 Juz, https://www.arrahmah.com/2015/03/03/gubernur-aher-pelajar-jabar-insyaa-allah-susul-iqbal-fawwaz-ramadhan-siswa-sman-3-hafidz-30-juz/    katanya “Bagaimanapun juga Al Qur’an adalah cahaya, kita hidup di dunia ini gelap banget, semua yang kita butuh di ruangan itu ada, dan kita nggak bisa ngapa-ngapain di ruangan itu kalau nggak ada cahaya. Al Qur’anlah cahayanya, jadi sedikit saja interaksi dengan Al Qur’an akan membantu kita di dunia ini. Semakin sering interaksi kita dengan Al Qur’an, cahaya itu akan semakin lua...

You are is what you think

You are is what you think , pernahkah kita mendengar quote tersebut? Setiap hari wall facebook mengingatkan “What’s on your mind?” – apa yang kita pikirkan hari ini? dan berapa banyak firman Allah dalam Al qur’an yang diakhiri dengan pertanyaan “afala tatafakkaruun” = apakah kalian tidak berpikir? Atau “afala ta’qilun ”= apakah kalian tidak gunakan akalmu? Atau “afala yatadabbarun” = apakah kalian tidak mengkaji?   Pertanyaan seperti ini menstimulus pikiran kita untuk melakukan action (amal) lanjutan.    Jika pola pikir benar, maka akan bertindak benar, maka berdoanya pun akan benar. Ibarat nembak, tembakannya itu jitu. Tahukah kita bahwa kemampunan berpikir kita itu bisa ditingkatkan dengan saling tukar menukar informasi dan juga menambah frekuensi komunikasi dengan orang lain.   Iya, kamu adalah apa yang kamu pikirkan.  Semua indera yang kita miliki kemampuannya sangat terbatas, indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga),...