Langsung ke konten utama

Antara kepuasan dan kebahagiaan, Pilih Mana?

Sudah mainstream postingan di sosmed tentang “Bahagia itu sederhana”.  Mulai dari seorang isteri dibawakan bakso oleh suaminya sepulang kerja itu sudah bahagia, atau cuma makan seblak pedas itu saja sudah bahagia (he..he..), ada juga yang hanya menikmati rincik hujan, sambil minum secangkir kopi dan membaca buku itu sudah bahagia… 
photo credit : Farah - reading vibes di Dispusipda Kota Bandung
Masih inget film “pursuit of happiness”(2006) yang dibintangi actor Will Smith? – titik baliknya mengejar kebahagiaan, yaitu ketika dirinya begitu terpuruk secara pekerjaannya hanya sebagai sales alat kesehatan, dengan beban hidup dan lilitan hutang, ia melihat seseorang memarkir Ferrari merahnya dan tampak sangat sukses. Kepo dia bertanya “apa pekerjaan anda sehingga bisa punya Ferrari keren ini?” – dan orang tersebut menjawab: “saya seorang pialang saham”. Dari sinilah timbul impian untuk mengikuti jejak orang sukses tersebut.  Tapi kali ini aku tak akan membahas mengenai film itu, aku hanya sedikit mengungkit kegigihan orang yang mengejar kebahagiaan, yang terwakili dengan baik oleh film ini.
***
Semua orang  ingin bahagia, tapi tidak ada orang yang selalu bahagia, karena bahagia dan sedih merupakan salah satu feature dari “EMOSI” yang diciptakan Tuhan pada manusia. Jadi jika hanya mengejar kebahagiaan, maka bersiaplah untuk mendapatkan banyak kekecewaan.  Jadi pada saat kita menetapkan diri untuk mengejar kebahagiaan, baiknya definisikan dulu arti kebahagiaan itu.
Ternyata Allah tidak membahas dengan tegas tentang kebahagiaan dalam Al Qur’an.  Hal tertinggi dalam Al Qur’an adalah “KEPUASAN” hingga hati merasakan kedamaian.  Jadi merasa damai dan merasa bahagia itu dua hal yang berbeda. Dan we’ll gonna be shocked bahwa ternyata level paling rendah dari tujuan hidup adalah mengejar kebahagiaan.  Whaat?? How could it be?
Memang tak perlu terlalu susah payah koq untuk bahagia.  Untuk hal sepele, bahagia itu mudah. Ketemuan dengan teman, sudah merasa bahagia. Pergi ke mall, kulineran, sudah merasa bahagia. Pertanyaannya : what next? Setelah bahagia-bahagia yang sederhana itu hilang, kita akan merasa bosan lagi, gabut lagi (baca juga : https://determinendah.wordpress.com/2018/10/23/gabut/).  Apakah kita tidak ingin “naik kelas” untuk meraih bahagia yang lebih tahan lama?
Ustad Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa ada level-level berikutnya diatas mengejar kebahagiaan yaitu mengejar impian menjadi keren, setelah itu mengejar popularitas, mengejar gengsi, dan mengejar uang. Tentunya setiapkali naik level berarti more pain to get it. Bagi seseorang yang mengejar impian untuk menjadi keren, bukan tentang mengejar kebahagiaan, tapi dia benar-benar berupaya karena ingin semua orang bilang “kamu keren!”.  Kita mungkin pernah merasakan pula bagaimana saat kuliah, seolah apa yang kita pakai ke kampus menjadi begitu matters, begitupun bagi sesiapa  yang mengejar gengsi, pilihan tempat kuliah di perguruan tinggi negeri tertentu menjadi sangat matters. Perlu upaya lebih untuk bisa diakui diantara teman meskipun kadang mesti mengorbankan diri demi jaga image. Tapi ada juga orang yang menyampingkan kebahagiaan- kebahagiaan di atas, yaitu mereka yang mengejar uang,  yang penting bisnisnya sukses mendapatkan uang. Jadi orang tipe seperti ini ia tidak peduli dengan penampilan, tidak peduli gengsi, yang penting dapat duit.
Masihkah ada tujuan hidup yang lebih tinggi dari semua hal diatas?
***
Mungkin kita pernah mengenal diatara teman, ada yang terlalu risau dengan hasil ujiannya padahal kita tahu nilainya itu nyaris sempurna tapi tetap saja ia merasa kurang puas. Ia tidak peduli dengan nilai orang lain dan juga tidak lantas cepat berpuas hati setelah melihat nilai teman-temannya jauh dibawah nilainya. Orang semodel ini tidak mencari ketenaran, melainkan mengejar kesempurnaan. Ia akan terus menerus menempa dirinya untuk menjadi yang terbaik. Tidak pernah puas dengan dirinya, ia bersaing dengan dirinya sendiri. Jarang ada orang seperti ini. Etos kerjanya menjadi yang terbaik.
Atau pernahkah juga kita mendengar ada seseorang yang tidak peduli dengan apa yang dia dapat, baik kedudukan, status ataupun uang, ia hanya ingin berbuat untuk orang lain, sebutlah Mahatma Gandhi, atau Nelson Mandela, atau yang baru-baru ini meninggal di penjara, Presiden Mursyi. Mereka ini mengorbankan diri mereka untuk tujuan yang lebih besar, mereka tidak memikirkan nasibnya. Mereka adalah pemburu perubahan, yang berusaha menegakkan idealism, atau menegakkan keadilan. Mereka bukan memburu kesempurnaan diri, tetapi justru kita melihat kesempurnaan diri telah lama ada di dalam diri mereka.
Lalu masih adakah tujuan hidup yang lebih tinggi dari hal terakhir diatas?
photo credit : farah - senja way back home, tol cipularang
Ada. Yaitu menyebarkan kebenaran hakiki. Seperti yang diusahakan oleh para nabi Alaihissalam. Menyebarkan kebenaran yang haqq menjadi puncak kepuasan hidup. Meski dalam berdakwah mereka selalu didustakan oleh kaumnya, bahkan pengikutnya pun hanya sedikit padahal telah berusaha selama ratusan tahun, mereka tetap puas dengan hasil tersebut.  Nabi Nuh alahissalam, berdakwah selama 950 tahun, pengikutnya hanya 83 orang saja. is it worth? Ya. Sudah pasti. Mereka tetap sukses di sisi Allah. Boleh jadi kita bertanya, koq bisa ada manusia sekualitas ini. 

Sebenarnya manusia diciptakan untuk membuat perubahan, diciptakan untuk memikirkan orang lain. Sesungguhnya Allah telah membebankan tanggung jawab yang sangat besar kepada manusia. Bagi sesiapa yang mengerti akan besarnya tanggung jawab ini, maka sudah semestinya tidak gampang puas atas apa yang mereka usahakan.  Imam Hasan Al Banna berkata, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, dan jika engkau punya kepentingan atau tugas, maka selesaikan segera.”

Allah Maha Tahu bahwa yang dibebankan pada manusia itu berat, oleh karenanya firmanNya: “Allah tidak membebanimu melainkan sesuai dengan kemampuanmu.” oleh karenanya kemudian, sempurnakan ikhtiar dalam menyebarkan kebenaran diantara manusia dengan doa “ Laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minadholimiin” – Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku termasuk kepada orang yang dzalim, doa ini sebagai manifestasi mengakui kelemahan diri, bahwa banyak tugas dariNya yang belum dapat kita tunaikan secara maksimal.

Mari kita ambil hikmah, bahwa dari tujuan-tujuan hidup diatas, yang paling penting bagi Allah adalah “Berusaha”, bukan uang, bukan dampak, bukan kesempurnaan, semua itu akan menyusul kemudian otomatically…

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105).
Barakallahu fiik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monetisasi (monetization) it's all we want

Monetisasi Blog Monetisasi adalah mengubah atau mengelola blog yang semula hanya sebagai ajang menulis dan berekspresi menjadi media untuk mencari uang intinya kata monetisasi dipakai untuk menyatakan bahwa blog milik kita digunakan untuk mencari uang atau lebih tepatnya mendapatkan pendapatan dari blog atau bisa juga sebagai sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan ataupun justru sebagai penghasilan utama dengan jalan menjadikan pasif income pada sebuah broker atau dengan memasang iklan untuk mencari uang lewat internet. Monetisasi aktivitas di rumah Throw back moment saat mahasiswa, nongkrong bareng di restoran cepat saji di BIP Bandung, dikenalkan dengan seorang unordinary woman yang hidupnya terlalu berfoya-foya, temenku bilang dia jago jual beli saham. Penghasilannya unbelievable- secara bagi aku yang masih kuliah akuntansi tingkat tiga bikin baper. Dia bilang cari uang itu gampang, bisa sambil leyeh-leyeh di tempat tidur, teknologi memudahkan dir...

Kiat sukses menghapal Qur'an dan Kuliah

Kuliah atau fokus menghapal Qur'an ? - bukan suatu yang mustahil diwujudkan, beberapa santri tahfidz di pesantren saat ini banyak yang menempuh keduanya. Begitupun sebaliknya, siswa sekolah formal umum, mulai menghapal Al Qur'an beriringan dengan waktu belajarnya.  Keceriaan santri Pondok Pesantren Islahul Ummah Cianjur saat wisuda  Ini membuatku terharu, ucapan Fawwaz, siswa kelas akselerasi SMUN 3 Bandung, yang juga hafidz Al Qur’an 30 Juz, https://www.arrahmah.com/2015/03/03/gubernur-aher-pelajar-jabar-insyaa-allah-susul-iqbal-fawwaz-ramadhan-siswa-sman-3-hafidz-30-juz/    katanya “Bagaimanapun juga Al Qur’an adalah cahaya, kita hidup di dunia ini gelap banget, semua yang kita butuh di ruangan itu ada, dan kita nggak bisa ngapa-ngapain di ruangan itu kalau nggak ada cahaya. Al Qur’anlah cahayanya, jadi sedikit saja interaksi dengan Al Qur’an akan membantu kita di dunia ini. Semakin sering interaksi kita dengan Al Qur’an, cahaya itu akan semakin lua...

You are is what you think

You are is what you think , pernahkah kita mendengar quote tersebut? Setiap hari wall facebook mengingatkan “What’s on your mind?” – apa yang kita pikirkan hari ini? dan berapa banyak firman Allah dalam Al qur’an yang diakhiri dengan pertanyaan “afala tatafakkaruun” = apakah kalian tidak berpikir? Atau “afala ta’qilun ”= apakah kalian tidak gunakan akalmu? Atau “afala yatadabbarun” = apakah kalian tidak mengkaji?   Pertanyaan seperti ini menstimulus pikiran kita untuk melakukan action (amal) lanjutan.    Jika pola pikir benar, maka akan bertindak benar, maka berdoanya pun akan benar. Ibarat nembak, tembakannya itu jitu. Tahukah kita bahwa kemampunan berpikir kita itu bisa ditingkatkan dengan saling tukar menukar informasi dan juga menambah frekuensi komunikasi dengan orang lain.   Iya, kamu adalah apa yang kamu pikirkan.  Semua indera yang kita miliki kemampuannya sangat terbatas, indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga),...