Menikah itu menyatukan perbedaan, baik secara fisik maupun batin. makanya dalam doa pengantin dikatakan "semoga Allah selalu mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan"
Bila karena kondisi kita terpaksa berjauhan, maka dibutuhkan kesiapan mental dan strategi agar hubungan tetap terbina dan langgeng tanpa pengkhianatan. Masing-masing menyadari bahwa terpisahnya jarak antara suami dan istri adalah sebuah masalah, dengan begitu masing-masing akan berusaha untuk jaga diri, saling percaya dan bersabar demi menyatukan persepsi tentang masa depan keluarga.
-----------------
Iya, kedengarannya saja indah, di film-film boleh jadi begitu, tapi yang sebenarnya sungguh bikin nyesek. Apalagi bagi seorang suami yang biasa tergantung segala sesuatunya pada istri, mulai dari bangun tidur sampai dengan mau tidur. Secangkir kopi panas di pagi hari yang disajikan dengan cinta dan senyuman istri, mendadak jadi barang mahal yang dirindukan. Belum lagi urusan pakaian, dan rapi-rapi tempat tinggal, pasti jadi hal yang rumit untuk dilalui sendiri tanpa sentuhan nyonya rumah, right?
Jangan pernah mengangggap terpisahnya jarak antara suami dan isteri bukan merupakan masalah, justru bila kurang dapat memahaminya akan menjadi penyulut permasalahan rumah tangga yang sebenarnya. Menganggap LDR adalah hal sepele akan berdampak terlalu permissive sehingga terbukalah celah-celah problematika which is potentially could be happen anytime.
Bila karena kondisi kita terpaksa berjauhan, maka dibutuhkan kesiapan mental dan strategi agar hubungan tetap terbina dan langgeng tanpa pengkhianatan dan kerugian di salah satu pihak. Kesiapan mental dibangun atas dasar positive thinking,saling percaya dan menyatukan persepsi tentang masa depan keluarga. Sedangkan strategi, ini sifatnya teknis, gunakan fasilitas komunikasi yang sesuai dengan budget keluarga untuk mendukung terjaganya hubungan secara harmonis dan hangat meski terpisah jarak, namun tetap juga dibutuhkan saling keterbukaan dan rasa saling memiliki yang kuat untuk menciptakan suasana.
Kondisi kejiwaan seseorang senantiasa berubah-ubah, dan biasanya pasangan yang terpisah jarak itu akan lebih sensitive. Melihat anak kecil yang lucu, langsung teringat anak di rumah yang ditinggalkan, tapi melihat wanita lain yang cantik, langsung lupa pada isteri di rumah, whoa…. Jangan begitu ya bapak-bapak. Bisa bahaya. Hhe…
Kata kuncinya jangan sama-sama keras kepala, saling memahami kesulitan masing-masing, selalu ingat pada tujuan rumah tangga yang sebenarnya, kondisi terpisah ini merupakan proses yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran. Libatkan anak-anak untuk aktif pula berkomunikasi dengan baik, katakan pada anak kita yang laki-laki untuk dapat menjaga ibunya, karena seorang laki-laki harus jadi pelindung bagi ibu dan saudara perempuannya. Meski anak laki-laki kita masih kecil, akan tumbuh “pride” pada dirinya sebagai seorang lelaki. Dan katakan pada anak perempuan kita untuk dapat membantu pekerjaan ibunya di rumah. Pesankan pula pada mereka untuk menjaga shalat-shalat mereka. Jarak, dan terbatasnya waktu harus jadi boosteruntuk meningkatkan ibadah, untuk bergantung hanya pada Alloh. Insyaalloh mereka akan menjadi pribadi yang tangguh.
Hubungan yang erat dengan anak ibarat “salah satu sekrup” yang menguatkan hubungan dalam keluarga inti. Bahkan saat “sekrup utama” yaitu hubungan antar suami dan isteri longgar, mereka sering menjadi pemersatu, penyelamat keutuhan keluarga.
Jika terpisahnya keluarga dasarnya karena demi kebaikan bersama, maka berkumpulnya keluarga adalah hal utama dalam skala prioritas kita. Kalau perlu tolak perintah atasan bila itu akan mengganggu jadwal pertemuann dengan keluarga. So make it special pada setiap pertemuan, masing-masing pasangan mempersiapkan diri, mulai dari perawatan tubuh supaya terlihat charming, sampai dengan kebersihan rumah, kondisikan pula anak- anak untuk menghormati privacy orang tua. Sehingga cukup waktu bagi pasutri untuk saling melepas rindu, merecharge tenaga dan enegizing semangat, menjaga keseimbangan mental.
Yang tak kalah pentingnya adalah saling memberikan kompensasi atas waktu dan perhatian yang begitu terbatas sehingga anak-anak sudah berkorban perasaan karena terpisahnya jarak, berikan selalu oleh-oleh buat mereka. Anjuran untuk membuat senang terhadap orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُور
ٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَ لَأَنْ أَمْشِيْ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا المَسْجِدِ ، ( يَعْنِي مَسْجِدُ النَبَوِي ) شَهْرًا“
ٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَ لَأَنْ أَمْشِيْ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا المَسْجِدِ ، ( يَعْنِي مَسْجِدُ النَبَوِي ) شَهْرًا“
Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah membuat gembira terhadap seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646)
Komentar
Posting Komentar