Rayakan Kemenangan
Bersyukur
pada Allah atas karunia Ramadhan, sebagaimana seorang pegawai yang sudah
bekerja selama sebulan penuh, tentunya akan dibayarkan upahnya. Begitupun kita, setelah 30 hari berpuasa, maka
pada tanggal 1 syawal, Allah bayar upahnya, yaitu kembali suci dari dosa, dan
kita merayakannya sebagai hari kemenangan. Iya, kemenangan atas hawa
nafsu. We had conquered emotion,
sangat layak untuk dirayakan, karena kita telah menang dari perang yang
sesungguhnya. Seperti itu yang dikatakan Rosul sesaat setelah menang dalam
perang Badar, bahwa kemenangan Badar adalah kemenangan dari perang yang keci
saja. ada peperangan yang lebih besar, yaitu perang melawan hawa nafsu.
***
Dalam perjalanan menuju kumpulan silaturahim keluarga besar di jalan Otista Cianjur, di rumah kakak paling besar, music player di mobil mengalunkan lagu Kupu-kupu malamnya Titiek Puspa yang di cover oleh Ariel Peterpan, pikiranku terungkit terutama pada bagian lirik “dosakah yang dia kerjakan, apa yang terjadi-terjadilah, yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya, o… apa yang terjadi-terjadilah, yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa…” biasanya bila suasana sedang mendukung dan nyaman, aku selalu memberi komentar entah itu pada tontonan pada saat menonton TV bersama anak, atau pada saat melihat suatu kejadian, atau pada saat membaca buku yang sama pada bagian tertentu yang menurut aku perlu penjelasan lebih pada anak, atau pada lirik sebuah lagu sekalipun. Tapi hey, ini lebaran, kita nikmati silaturahim dengan saling bermaaf-maafan dan makan-makan, bergembira bersuka ria. Jadi untuk kali ini, aku menyimpannya dulu di memori pikiran, untuk kemudian menuliskannya di lain waktu tentang lirik lagu tersebut, yang akan aku kaitkan dengan keimanan.
***
Jangan Terpedaya Diri Sendiri
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah jelas perbedaan
antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya diri sendiri).
Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun
untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Berprasangka baik itu adalah
pengharapan (raja), barangsiapa pengharapannya
membawa kepada ketaatan pada Allah dan meninggalkan kemaksiatan, maka itu
adalah pengharapan yang benar. Dan barangsiapa yang berprasangka baik dan
berharap kepada Allah tetapi enggan meninggalkan maksiat, menganggap ringan
dosa, maka itu termasuk terpedaya.
Lirik lagu kupu-kupu malam itu menceritakan tentang seorang
wanita penghibur, yang melakukan pekerjaan haram tersebut demi untuk menyambung
hidup, hati terdalam meyakini bahwa pekerjaannya itu dosa, ada tersirat
pengakuan atas dosa, namun kemudian dirinya merasa tak mampu untuk melepaskan
diri, lalu dirinya membuat pembenaran bahwa Tuhan Maha Penyayang dan berharap
akan memahami, mengerti dan meridhoi pekerjaan haramnya tersebut. Nah, pada
kesan yang tersirat pada lagu inilah, yang aku merasa perlu untuk memberikan
catatan pada sesiapa yang mendengarkan lagu ini. jangan sampai kita ini seperti
orang yang membenarkan hal-hal keji yang dilarang oleh agama. Dan terpedaya
oleh diri kita sendiri.
Boleh
jadi, tanpa disadari kita pun melakukan hal serupa, contohnya nih, kita ingin
melepaskan diri dari satu hal perbuatan dosa, seperti mencuri, korupsi, berzina,
berbohong, menipu, penikmat kehidupan
gemerlap (dugem), tapi kita tidak bersegera meninggalkannya, karena merasa diri
kita masih muda, akan bertobat bila sudah tua nanti, STMJ – shalat terus,
maksiat jalan. Terus kita melakukan pembenaran diri, bahwa Allah Maha Pengampun…”ho
ho, tak semudah itu fergusso!”
Ada kita
jumpai orang yang begitu skeptis, yang seringkali beropini asbun “asal bunyi”
dan menyelisihi kaidah norma agama. Seperti di tahun-tahun politik lalu kita
temukan spanduk bertuliskan “pilih si fulan, kafir tapi jujur” untuk merespon
kondisi actual yang sedang terjadi pada
beberapa kasus, pelaku korupsi malah berasal dari kalangan muslim yang
kelihatannya taat beragama. Sehingga sering terdengar, “buat apa shalat, tapi
korupsi,” atau “mendingan kita tak berjilbab tapi berbuat banyak bagi umat,”
statement seperti ini seolah melakukan pembenaran untuk tidak melakukan hal syar’i (bagi umat muslim)
sehingga menjalankan perintah Allah itu menjadi optional, padahal suatu yang
memenuhi kaidah rukun, itu wajib dilaksanakan.
Agama
dibuat Allah, untuk dipakai manusia sebagai end user, Allah ciptakan
manualnya, yaitu Al Qur'an agar semua features bisa digunakan, petunjuknya diikuti sehingga selamat sampai
tujuan. Allah juga sudah secara tersurat memberitahu tentang agama yang diridhoinya. The
choice is yours. Yang pasti sih, kita butuh untuk menerima kebenaran karena kemanfaatannya
adalah bagi diri kita sendiri. Ada bagian pada setiap apa yang kita kerjakan,
jangan pernah sekalipun kita mengira Allah miscounting, tak mungkinlah,
Allah itu Maha Teliti dan Maha Cepat Hisabnya. Teruslah berbuat kebajikan,
dilihat atau tak dilihat, bersama-sama atau kala bersendirian.
Dalam
memandang dosa, seorang beriman senantiasa menganggap dosa kecil yang
dilakukannya layaknya sebuah gunung yang akan menimpa dirinya, namun bagi orang
munafik, terhadap dosa-dosa kecil yang dilakukannya, ia memandangnya seperti
lalat yang hinggap dihidungnya yang mudah untuk dikibaskan.
Setiap dari
kita adalah pelaku dosa, we are sinfull, namun sebanyak apapun dosa
kita, ampunan Allah lebih besar dari pada dosa kita, kita tak boleh berputus
asa terhadap rahmat Allah, namun jangan pula berharap bahwa Allah Maha
Penyayang, tapi harapan itu tak sanggup menuntun diri kita untuk keluar dari
kubangan maksiat. Karena itu berarti kita sedang terpedaya oleh diri sendiri.
Selamat merayakan Idul Fitri 1440, mohon maaf lahir dan bathin
Barakallahu
fiik


Komentar
Posting Komentar