Kuliah atau fokus menghapal Qur'an ? - bukan suatu yang mustahil diwujudkan, beberapa santri tahfidz di pesantren saat ini banyak yang menempuh keduanya. Begitupun sebaliknya, siswa sekolah formal umum, mulai menghapal Al Qur'an beriringan dengan waktu belajarnya.
![]() |
| Keceriaan santri Pondok Pesantren Islahul Ummah Cianjur saat wisuda |
Ini membuatku terharu, ucapan Fawwaz, siswa kelas akselerasi
SMUN 3 Bandung, yang juga hafidz Al Qur’an 30 Juz,
https://www.arrahmah.com/2015/03/03/gubernur-aher-pelajar-jabar-insyaa-allah-susul-iqbal-fawwaz-ramadhan-siswa-sman-3-hafidz-30-juz/ katanya “Bagaimanapun juga Al Qur’an adalah cahaya, kita hidup di dunia ini gelap banget, semua yang kita butuh di ruangan itu ada, dan kita nggak bisa ngapa-ngapain di ruangan itu kalau nggak ada cahaya. Al Qur’anlah cahayanya, jadi sedikit saja interaksi dengan Al Qur’an akan membantu kita di dunia ini. Semakin sering interaksi kita dengan Al Qur’an, cahaya itu akan semakin luas, cahaya itu akan membuka semua jalan…”
https://www.arrahmah.com/2015/03/03/gubernur-aher-pelajar-jabar-insyaa-allah-susul-iqbal-fawwaz-ramadhan-siswa-sman-3-hafidz-30-juz/ katanya “Bagaimanapun juga Al Qur’an adalah cahaya, kita hidup di dunia ini gelap banget, semua yang kita butuh di ruangan itu ada, dan kita nggak bisa ngapa-ngapain di ruangan itu kalau nggak ada cahaya. Al Qur’anlah cahayanya, jadi sedikit saja interaksi dengan Al Qur’an akan membantu kita di dunia ini. Semakin sering interaksi kita dengan Al Qur’an, cahaya itu akan semakin luas, cahaya itu akan membuka semua jalan…”
Sosok Fawwaz mewakili pemuda yang gigih menempuh pendidikan
formal dan juga dan sungguh-sungguh dalam menghapal Al Qur’an. Kelak, adinda
Fawwaz akan menjadi seorang cendikiawan muslim, seorang professional yang
sholeh. Insya Allah. Inilah kiat-kiat untuk sukses menghapal Al Qur’an dan ilmu
pengetahuan umum.
Memiliki Niat dan Tekad yang Kuat
Bisakah menguasai ilmu dien dengan nyantai-nyantai dan enak-enakan? Nope, tidak bisa. Menuntut ilmu harus dengan perjuangan keras, hidup prihatin, tidak angkuh dan berkhidmat terhadap ulama. Sebagaimana An-Nawawi berkata,
Bisakah menguasai ilmu dien dengan nyantai-nyantai dan enak-enakan? Nope, tidak bisa. Menuntut ilmu harus dengan perjuangan keras, hidup prihatin, tidak angkuh dan berkhidmat terhadap ulama. Sebagaimana An-Nawawi berkata,
المجموع شرح المهذب (1/35)
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيَفْلَحَ وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذُلِّ النَّفْسِ وَضِيقِ الْعَيْشِ وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ“
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيَفْلَحَ وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذُلِّ النَّفْسِ وَضِيقِ الْعَيْشِ وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ“
Asy Syafi'i rahimahullah berkata, "tidak ada seorang pun yang menuntut ilmu ini (ilmu dien) dengan kekuasaan dan keangkuhan jiwa kemudian berhasil. Tetapi, barangsiapa menuntutnya dengan kerendahan hati, hidup prihatin dan berkhidmat kepada ulama, maka dia akan sukses" (Al majmu Juz I hal 35)
Senantiasa bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu dengan meluruskan niat, mengikhlaskan karena Allah, karena dengan niat ikhlas, maka akan hilanglah kejahilan yang ada pada dirinya. Inilah sumber motivasi intrinsik, motivasi yang kuat mengakar pada diri seseorang.
Memiliki akhlak
karimah
al-akhlaq yang berarti tabiat, perilaku dan kebiasaan. Sedangkan karimah artinya mulia atau terpuji. Seseorang yang mempelajari AlQur’an itu semestinya menjaga akhlaq karimah kepada Allah dan kepada sesama mahluk; yaitu kepada orang tua, guru, teman, diri sendiri dan mahluk Allah yang lain. Menjauhi maksiat, karena ilmu adalah cahaya sedang maksiat adalah kegelapan, sehingga berbuat maksiat akan memadamkan cahaya ilmu yang ada dalam dirinya.
al-akhlaq yang berarti tabiat, perilaku dan kebiasaan. Sedangkan karimah artinya mulia atau terpuji. Seseorang yang mempelajari AlQur’an itu semestinya menjaga akhlaq karimah kepada Allah dan kepada sesama mahluk; yaitu kepada orang tua, guru, teman, diri sendiri dan mahluk Allah yang lain. Menjauhi maksiat, karena ilmu adalah cahaya sedang maksiat adalah kegelapan, sehingga berbuat maksiat akan memadamkan cahaya ilmu yang ada dalam dirinya.
Memiliki Perencanaan
Perencanaan akan membantu keberhasilan, sehingga seseorang dapat
mengukur diri dan kemampuan sehingga dapat memperhitungkan apa yang telah
dikerjakannya. Dengan perencanaan maka seseorang akan berusaha terus menggali
ilmu dan bertanggung jawab terhadap berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai
tujuan. Perencanaan ini meliputi berapa
lama waktu yang kita perlukan, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan dan
perguruan tinggi mana yang menjadi pilihan yang menurut kita mampu
menghantarkan cita-cita kita.
Memiliki Strategi menghapal
- Benarkah orang yang longgar (memiliki waktu banyak) itu akan lebih mampu menghapal, sedangkan orang sibuk itu lebih sulit dan susah menghapal. Benarkah demikian?. Ternyata kalau kita amati, tidak semua mereka yang di pondok memiliki waktu yang banyak mampu menyelesaikan hafalanya dengan baik, dan tidak semua mereka yang sekolah dan kuliah atau orang yang sibuk dengan aktivitasnya itu gagal dalam menghapal.
- Kita ketahui bahwa menghapal itu memerlukan konsentrasi dan fokus. Kuliah pun juga memerlukan konsentrasi dan fokus. Kalau demikian, manakah yang harus didahulukan. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai kesibukan pertama sebelum kesibukan yang lain. Karena Al-Qur’an sejatinya adalah pedoman hidup manusia. Kalau harus memilih antara kuliah dan menghapal, pilihlah kuliah, namun jadikan Al-Qur’an sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan kuliah kita. Maka insya allah, Allah akan melancarkan kuliah kita.
- Metode yang biasanya diterapkan untuk menghafal sangatlah beragam, bahkan penentuan batas hafalan juga beragam. Hafidz yang memiliki semangat tinggi untuk menghafal tanpa menggunakan strategi tertentu dalam menghafal justru akan mengalami kesulitan jika tidak melakukan pengulangan dari ayat yang sebelumnya telah dihafalkannya.
Memahami faktor penunjang keberhasilan dan
faktor penghambat keberhasilan
Penunjang Keberhasilan
|
Penghambat Keberhasilan
|
·
Manajemen waktu yang baik,
·
Kesehatan yang prima
· Tidak memiliki masalah psikologis, tidak
gampang galau, bête, karena kegiatan menghapal memerlukan ketenangan batin
· Motivasi, kesungguhan belajar yang besar baik
intrinsik maupun ekstrinsik
|
· Ingin cepat-cepat hapal tanpa mengulang-ulang
hapalan
· Rasa jemu dan jenuh atas rutinitas menghapal,
yang bila tak segera diatasi akan menyebabkan kelelahan mental, sehingga
terpental keluar dan tidak tuntas menyelesaikan studi dan hapalan
· Menaruh perhatian berlebihan pada urusan
dunia tanpa dapat mengendalikannya, seperti penggunaan gadget secara
berlebihan
|
Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah
mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan
kaum yang lain, juga karena al-Quran.”(HR. Ahmad 237 & Muslim 1934)
Bagi remaja muslim penghafal Al Qur'an, yang punya keinginan melanjutkan
sekolah ke jenjang perguruan tinggi tapi tidak memiliki biaya, saat ini di Indonesia telah banyak
Perguruan Tinggi negeri maupun swasta yang menawarkan beasiswa, dan menyediakan
kuota penerimaan mahasiswa baru dari jalur tahfidz Qur’an. Berikut informasinya
dapat kalian lihat di link ini https://sajadalife.com/index.php/204-berbagai-kampus-tawarkan-beasiswa-untuk-penghafal-al-qur-an
Barakallahu Fiik
#Bloggerchallenge_day10
#Bloggercianjur





MasyaAllah, menginspirasi
BalasHapusBetul sekali Bu Endah, Al-Qur'an adalah cahaya, semoga kita semua dapat menjadi penghafal Al-Qur'an dan memahami nya..
BalasHapusMakasih sharing nya Bu Endah..
aamiin, alhamdulillah. waiyyaki kang lukman
HapusGood thought
BalasHapus