Langsung ke konten utama

Membentuk karakter unggul pada anak sejak usia dini

Take for granted adalah sebuah frasa dalam bahasa Inggris yang artinya berbeda jauh dengan maknanya. Jika kita artikan kata per kata artinya menerima dengan yakin. Padahal makna sebenarnya yaitu sikap yang tidak menghargai suatu hal karena kita menganggap hal tersebut sudah lumrah atau biasa kita dapatkan setiap harinya.   

Takdir seorang ibu, sering banget disikapin begitu oleh anak-anaknya.  Kebanyakan anak-anak menganggap bahwa sudah selayaknya orang tua memenuhi segala kebutuhannya. Contohnya  kegiatan rutin setiap hari sesaat akan berangkat sekolah, mulai dari disiapin sarapan, dicukupi bekelnya, and so on… mereka woles, even to say “thank you mom”, orang tua pun memang tak terlalu mempermasalahkan juga sih, karena memang itu sudah menjadi tanggung jawabnya. That what’s mom for.


Tapi beneran, yang diajarkan di pesantren ternyata tidak begitu… take for granted itu sudah masuk pada katagori akhlak yang tidak beradab, Ck..ck..ck... di dalam kitab akhlaqul banin, sangat detail membahas hal tersebut. Aahh indahnya bila pesan kitab ini dapat terimplementasikan oleh anak-anak kita dan juga oleh kita para orang tua.  Sebagai orang tua, kita pun mesti memberi apresiasi pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak kita. Jangan sampai anak merasa tak pernah dihargai saat melakukan suatu kebaikan. Tapi begitu berbuat kekeliruan sedikit saja, omelannya berantai dan panjang sampai to the moon and back. Hhe…



Orang tua mesti menanamkan norma-norma kebaikan sedini mungkin, supaya anak-anak terbiasa melakukan hal-hal baik seperti menghargai orang lain, berterima kasih, disiplin, berani bertanggung jawab, menawarkan bantuan dan meminta maaf dimana pun mereka berada.  Tak perlu lagi ada revolusi mental kalau begitu… jika para orang tua sudah mengajarkan hal berikut ini sedini mungkin.
  1. Ajarkan anak kita untuk mendengarkan orang lain, 
Berapa banyak anak-anak balita kita yang dibiarkan cuek tak merespon saat orang mengajaknya bicara, segera tunjukkan bahwa sikap tersebut tidak baik. Ini pengalaman penulis, waktu itu farah anak bungsuku umur 3 tahun;  saat itu ada tamu, teman dari suami ke rumah, namun aku dan suami masih dijalan menuju rumah, jadi sementara menunggu kami datang, tamu ini ngajak ngobrol si kecil farah di ruang tamu sementara si bibi di dapur memasak.  Saat kami sampai rumah, tamu ini berkata “ lucu banget ini ade,  nyambung kalo diajak bicara…”
Pastikan balita kita memahami bahwa tidak mendengarkan orang lain yang sedang  berbicara dengannya itu adalah perilaku yang tidak sopan dan tidak baik. Insya Allah jika terus-terusan diingatkan, mereka akan paham dan terbiasa.

2. Menjawab pertanyaan orang lain dengan jelas
Ajarkan untuk menjawab pertanyaan dari guru atau orang tua dengan suara yang jelas, tidak bergumam. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri, dan agar lawan bicara mereka dapat mengerti apa yang mereka katakan.  Ini perlu dilatih,  misalnya dengan sering menanyakan pertanyaan “apa pendapatmu de?” atau “menurut ade bagaimana?” pada saat melihat suatu tontonan atau suatu kejadian. Dan biasakan untuk mengulang-ngulang suatu pertanyaan, contohnya saat di dapur sambil mengeluarkan  sayur bayam dari plastik belanjaan, si ibu bertanya “ini sayur apa de?” ade pun akan menjawab “bayam” ibu membenarkan, “sayur bayam”. Sayur apa?  Si ade pun akan menjawab kembali “bayam”.  Karena tabiat anak kecil memang suka mengulang-ulang suatu gerakan atau ucapan.

3. Ajarkan untuk duduk dengan posisi yang benar
Ada sebagian orang berpendapat, posisi duduk menentukan prestasi, mungkin ada benarnya, karena biasanya orang yang duduk dengan posisi yang benar, akan punya daya tahan yang lebih lama dan lebih berkonsentrasi. Dari penilaianku di pondok, santri yang mampu menghapal Qur’an dengan baik adalah mereka yang membiasakan diri  duduk dengan posisi yang baik, tegak tidak bongkok saat menghabiskan waktu untuk menghapal. Biasakan pula anak balita kita untuk duduk yang benar saat makan, jangan menyuapi anak sambil jalan-jalan, membiarkan anak berlari-lari kesana kemari, bahkan ibunya yang mengejar-ngejar untuk memasukan sesuap makanan ke mulut balita kita. Ini kebiasaan yang sangat buruk. Ajarkan untuk duduk dengan tertib ketika makan, beri pengertian bahwa ibu memiliki banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan, jadi kalau si ade makan dengan duduk tenang,  kegiatan makan akan singkat dan cepat, ibu jadi senang, semua senang, dan pekerjaan rumah lebih banyak yang terselesaikan.  

4. Tidak memakai barang orang lain tanpa ijin pemiliknya
Ajarkan untuk mampu membedakan  barang orang lain dan barang miliknya sendiri,  jangan sampai saat rebutan mainan dengan anak tetangga, orang tua malah gagal paham, malah menuduh pelit anak orang, hhe… pastikan mereka mengerti bahwa barang milik orang lain tidak boleh sembarangan diambil. Ajarkan untuk meminta ijin sebelum memakai barang milik orang lain.

5. Biasakan untuk menjaga kerapian
Ada orang tua yang memberikan keleluasaan anak balitanya untuk bermain dan being berantakan dengan segala mainannya.  Jangan gagal paham ya buibu, yang mesti dihindari itu adalah orang tua membentak dan melarang anak untuk bermain dengan mainannya, bukan membiarkan rumah tetap berantakan dengan alasan pasti bakal berantakan lagi… Namun tetap, ajarkan mereka sebelum beralih pada kegiatan lainnya untuk merapihkan kembali. Ini sangat penting. Sekalipun beberapa saat anak kita akan mengeluarkan kembali mainan dari keranjangnya, tetap kita lakukan kegiatan merapikan berulang kali juga dan tanpa omelan dan kesal ya buibu… lakukan dengan menyenangkan misalkan sambil menghitung jumlah mainan saat dimasukkan ke keranjangnya.

6. Pastikan berpakaian bersih
Jangan sampai deh karena beredar iklan sabun cuci “kotor itu baik” terus saat melihat pakaian seragam anak kotor kita tidak menegurnya, bagaimanapun menjaga kebersihan pakaian itu merupakan hal yang baik, semua orang menyenangi orang yang berpakaian bersih dan rapi, latihlah agar anak kita senang untuk berpenampilan rapi dan bersih.

7. Tidur lebih awal dan bangun sendiri
Inget banget dulu ibuku suka bilang “early to bed, early to rise, make a man healthy, wealthy and wise… dan itu adalah kebiasaan yang sangat baik.  Cermati bila anak kita susah tidur,  diketahui dari penelitian sekitar 60% orang tua kurang mengawasi anaknya yang bermain smartphone, tablet atau video game. Sementara 75% orang tua membiarkan anak-anaknya bermain gadget di kamar tidur. Selain itu, 75% anak-anak usia 9-10 tahun kini mengalami kesulitan tidur akibat terlalu banyak bermain gadget. Hal ini berdampak pada prestasi anak di sekolah.

8. Tidak pilih-pilih teman
Biasakan untuk bersahabat dengan siapa saja sejak kecil sebelum memasuki dunia pendidikan,  jika tercyduk sedang mengolok-olok teman, segera ingatkan jangan didiamkan dan menganggapnya hal yang lumrah dilakukan anak-anak.  sampaikan betapa pentingnya arti seorang teman bagi dirinya.

9. Berani meminta maaf
Ini hal yang juga penting untuk dibiasakan sejak dini, yaitu meminta maaf bila salah, mengakui kesalahan, tidak saling menuding kesalahan, contohnya saat memecahkan gelas, merusak mainan, atau saat lalai tidak melakukan tugas, agar besar nanti menjadi pribadi yang jujur dan bertanggung jawab

10. Biasakan untuk bersikap mandiri
Segala hal mengenai keperluan dirinya yang bersifat rutin, mesti dibiasakan disiapkan sendiri, ajarkan untuk meletakkan sepatu pada tempatnya,  menaruh tas, mengerjakan PR sepulang sekolah, menggosok gigi sebelum tidur,  menaruh kaos kaki, topi dan lain-lain yang printilan tapi menyebalkan jika berulang-ulang lupa menaruh dan menghabiskan waktu untuk mencarinya sebelum sekolah esok hari.

Setidaknya itulah 10 hal yang mesti kita ajarkan pada balita dan anak usia sekolah agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter unggul, berbudi luhur,  tentu saja tidak effortless, kesungguhan buibu untuk mendidik mereka semenjak dini sangat menentukan,  diperlukan waktu yang banyak untuk membersamai mereka belajar,  mental attitude bukan perkara  instantaneous, dia adalah rangkaian didikan norma-norma yang diajarkan orang tua dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, menjadi teladan adalah juga pilihan yang sarat dengan pengorbanan, kesungguhan dan kerja keras. Anjuran Rosulullah Shalalahu ‘alaihi wasalam pada orang tua : “Hormatilah anakmu dan didiklah mereka. Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”   Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak-anak kita sesuai tuntunan nabi. Aamiin.

Barakallahu fiik
Penulis : Endah dan Farah
#Bloggerchallenge_day7
#Bloggercianjur

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monetisasi (monetization) it's all we want

Monetisasi Blog Monetisasi adalah mengubah atau mengelola blog yang semula hanya sebagai ajang menulis dan berekspresi menjadi media untuk mencari uang intinya kata monetisasi dipakai untuk menyatakan bahwa blog milik kita digunakan untuk mencari uang atau lebih tepatnya mendapatkan pendapatan dari blog atau bisa juga sebagai sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan ataupun justru sebagai penghasilan utama dengan jalan menjadikan pasif income pada sebuah broker atau dengan memasang iklan untuk mencari uang lewat internet. Monetisasi aktivitas di rumah Throw back moment saat mahasiswa, nongkrong bareng di restoran cepat saji di BIP Bandung, dikenalkan dengan seorang unordinary woman yang hidupnya terlalu berfoya-foya, temenku bilang dia jago jual beli saham. Penghasilannya unbelievable- secara bagi aku yang masih kuliah akuntansi tingkat tiga bikin baper. Dia bilang cari uang itu gampang, bisa sambil leyeh-leyeh di tempat tidur, teknologi memudahkan dir...

Kiat sukses menghapal Qur'an dan Kuliah

Kuliah atau fokus menghapal Qur'an ? - bukan suatu yang mustahil diwujudkan, beberapa santri tahfidz di pesantren saat ini banyak yang menempuh keduanya. Begitupun sebaliknya, siswa sekolah formal umum, mulai menghapal Al Qur'an beriringan dengan waktu belajarnya.  Keceriaan santri Pondok Pesantren Islahul Ummah Cianjur saat wisuda  Ini membuatku terharu, ucapan Fawwaz, siswa kelas akselerasi SMUN 3 Bandung, yang juga hafidz Al Qur’an 30 Juz, https://www.arrahmah.com/2015/03/03/gubernur-aher-pelajar-jabar-insyaa-allah-susul-iqbal-fawwaz-ramadhan-siswa-sman-3-hafidz-30-juz/    katanya “Bagaimanapun juga Al Qur’an adalah cahaya, kita hidup di dunia ini gelap banget, semua yang kita butuh di ruangan itu ada, dan kita nggak bisa ngapa-ngapain di ruangan itu kalau nggak ada cahaya. Al Qur’anlah cahayanya, jadi sedikit saja interaksi dengan Al Qur’an akan membantu kita di dunia ini. Semakin sering interaksi kita dengan Al Qur’an, cahaya itu akan semakin lua...

You are is what you think

You are is what you think , pernahkah kita mendengar quote tersebut? Setiap hari wall facebook mengingatkan “What’s on your mind?” – apa yang kita pikirkan hari ini? dan berapa banyak firman Allah dalam Al qur’an yang diakhiri dengan pertanyaan “afala tatafakkaruun” = apakah kalian tidak berpikir? Atau “afala ta’qilun ”= apakah kalian tidak gunakan akalmu? Atau “afala yatadabbarun” = apakah kalian tidak mengkaji?   Pertanyaan seperti ini menstimulus pikiran kita untuk melakukan action (amal) lanjutan.    Jika pola pikir benar, maka akan bertindak benar, maka berdoanya pun akan benar. Ibarat nembak, tembakannya itu jitu. Tahukah kita bahwa kemampunan berpikir kita itu bisa ditingkatkan dengan saling tukar menukar informasi dan juga menambah frekuensi komunikasi dengan orang lain.   Iya, kamu adalah apa yang kamu pikirkan.  Semua indera yang kita miliki kemampuannya sangat terbatas, indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga),...