Begin with the end in mind yaitu cara berpikir seseorang yang jika akan memulai suatu hal, ia pikirkan tujuan akhirnya, inilah yang disampaikan oleh Stephen Covey dalam bukunya 7 habits of highly effective people yang revolusioner karena kemampuannya dalam mengubah dunia buku non-fiksi khusus genre pengembangan diri.
“Orang muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang muslim lain baik dengan
lidah maupun tangannya, dan orang yang hijrah itu adalah orang yang
meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah” (Shahih Al Bukhari)
Jadi inget
dulu masa-masa ngaji dan jadi santri karya di DT, ada prinsip 3A yang sering di
sampaikan guru kami, yaitu :
- Aku aman bagimu
- Aku menyenangkan bagimu
- Aku bermanfaat bagimu
Lho kok
masih inget? … ya, iyalah, habisnya suka ditest dadakan kalau ada sidak, tetiba
AAgym masuk kantor berdiri di pintu masuk. Hmm... towew…wew…
Pernahkah
kita menjauhi seseorang karena kita punya anggapan “lebih baik tidak bertemu”,
karena berdasarkan pengalaman, lidahnya seringnya menyakitkan, dan kita tidak
nyaman ketika berada didekatnya? Sungguh kasihan jika ada type orang seperti
itu, dijauhi orang. And in the same time, kita pun interospeksi diri,
apakah kita sudah menjadi pribadi yang aman bagi orang lain. Jangan-jangan
sifat itu, malah gue banget. Hiiy... Naudzubillah.
Nabi mengatakan sebaik-baiknya orang
diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya, hal ini mengisyaratkan bahwa
seburuk-buruknya manusia adalah manusia yang dijauhi karena dikhawatirkan
keburukannya; celetukannya membuat luka hati orang lain, lisannya ringan sekali
meremehkan, merendahkan, mencaci maki, bahkan sindir menyindir meluncur lancar
tanpa beban sama sekali. Sangking sudah terbiasanya. Kalaupun lisannya diam,
lirikan matanya dan lengkungan bibirnya mewakili kejulidan hatinya.
Bijak dalam Bersosial Media
Jaman now, jika pun lisan kita diam,
bukan saja lirikan mata dan lengkungan bibir yang mewakili, sekarang jempol pun
sanggup membuat diri kita dijauhi orang lain, melalui cuitan, posting status
dan informasi yang kita share. Sehingga kita dibuat gerah dengan statusnya yang
bertebaran di timeline kita, terpaksa deh akhirnya kita unfriend,
untuk menjaga kenyamanan. Inilah fenomena yang terjadi sekarang, raganya stay
dikamar, sambil tiduran, tapi hatinya yang diwakili dengan jempolnya itu
sanggup berkata sadis dan berbuat nista. Syetan pesta pora penuh kemenangan.
Sampai-sampai anakku berkata dengan penuh keheranan saat tantenya memberi tahu
cuitannya di tweeter diserang kelompok pendukung tertentu dengan
komentar-komentar kasar, padahal kita tak saling mengenal, "mommy, koq ada
yang jahat begitu ke orang lain..., padahal dia diem dirumahnya."
Jangan
sampai postingan dan share informasi yang kita sampaikan itu berakibat mengadu
domba, karena kita tidak pandai memilah yang mana berita, fakta, prasangka,
gossip, fitnah. Apalagi di tahun pemilu saat ini, entah mengapa sesaat setelah
diumumkannya pasangan Capres-Cawapres, bulan Agustus 2018, hati ini diselimuti
kegamangan membayangkan panasnya suhu politik baik di medsos maupun dunia
nyata, karena panjangnya waktu, yaitu 8 bulan sampai dengan Pemilu nanti, April
2019. Dan yang menyesakkan, pasca pemilu serentak usai pun, suhu politik semakin tak terkendali, berpotensi chaos.
Jadi bagaimana sebaiknya sikap
kita dalam mengolah informasi yang kita terima? Berikut adalah hal yang dapat
kita perhatikan dan atau lakukan.
- Tabayun, mengkonfirmasi, Jika datang kepadamu
orang fasik dengan informasi, maka periksalah dengan teliti, cek dan
ricek. Coba lihat QS. 49 Al Hujurat : 6, namun itulah, sifat dasar kita
itu malas mencek ulang informasi, sehingga informasi begitu cepat
menyebar, apalagi jika itu kabar buruk, konon ketika kabar baik baru
menyebar beberapa kilometer, kabar buruk sudah menyebar seantero dunia.
- Zhan (prasangka), dan jauhilah kebanyakan dari
prasangka, karena bila kabar yang kita bagikan itu benar, itu disebut
ghibah dan bila kabar itu salah, itu disebut fitnah, jadi berhati-hatilah
karena ternyata tak ada pilihan. Karena sesungguhnya prasangka itu tak
memberimu sedikitpun kebenaran… hal ini tersurat dalam QS An Najm, ayat
28. Dalam terminology bahasa Inggris, disebut Prejudice, yang artinya
menghukum orang sebelum kita mengetahui informasi yang lengkap.
Bicaralah yang baik atau diam, sikap
orang yang bertaqwa terhadap informasi itu seumpama orang yang berjalan di atas
jalan yang banyak duri, sehingga harus hati-hati ketika berjalan diantara
duri-duri tersebut, jangan sampai terkena durinya. Tidak asal menbagikan
informasi, karena bisa berujung penjara karena terjerat pasal ujaran kebencian.
Berhati-hatilah.
Jika kita mudah menerima dan
menyebarkan informasi yang kita dengar, maka menurut Rosul hal itu sudah masuk
pada kualifikasi seorang pendusta, sebagaimana sabdanya “cukuplah seseorang itu
dikatakan sebagai pendusta bila dia menceritakan semua yang dia dengar (Hr.
Muslim). Sebelum membagikan sebuah berita, tanyakan pada diri kita sendiri :
- Apakah sumber beritanya valid,
- Apakah sudah dilakukan
konfirmasi,
- Apakah ini fakta atau
prasangka. Jika pun ini fakta dan benar, tanyakan kembali, apakah perlu
disebarkan? Jangan-jangan ada pihak-pihak yang akan tersakiti bila berita
ini disebarkan.
- Apakah berita ini memberi
kebaikan atau menyulut permusuhan? bila dikhawatirkan menyulutkan
prasangka dan permusuhan, pastikan saja berita ini untuk berhenti pada
dirimu saja. don’t share Aman.
Bijaksana dalam bertindak dimulai
dari hati yang khauf (takut) karena Allah, yang senantiasa menghadirkan sifat
ihsan, yaitu merasa dipandang oleh Allah. semoga kita terhindar dari hal yang
tidak diinginkan oleh sebab status, cuitan atau postingan yang kita bagikan,
karena kita sudah mengetahui bahwa ternyata keselamatan seseorang tergantung
pada menjaga lisan.
Barakallahu Fiik
Penulis : Endah dan Farah
#Bloggerchallenge_day4
#Bloggercianjur

Komentar
Posting Komentar